Siapakah Arsitek Masjid Istiqlal yang Sebenarnya?

Arsitek Masjid Istiqlal

Mungkin banyak yang tidak tahu, siapa yang menjadi arsitek Masjid Istiqlal di masa lalu. Rupanya masjid kebanggaan bangsa Indonesia ini adalah rancangan Friedrich Silaban. Seorang arsitek kelahiran Bonandolok, Tapanuli Utara.

Menariknya lagi, arsitek ini bukanlah seorang Muslim melainkan beragama Nasrani. Terlahir dari keluarga sederhana namun bersekolah di HIS Tapanuli Utara. Sekolah khusus untuk kaum pribumi yang terpandang dengan bahasa Belanda.

Perjalanan Menjadi Arsitek Masjid Istiqlal

Setelah lulus dari HIS, Friedrich melanjutkan pendidikannya ke sekolah teknik menengah kenamaan di Batavia.  Sekolah ini campuran antara murid Belanda dan murid pribumi pilihan. Untuk masuk harus melewati ujian penyaringan.

Beruntungnya Friedrich tidak harus menjalani ujian karena lulus dengan nilai yang bagus. Bahkan untuk biaya sekolah pun mendapatkan beasiswa. Di sekolah teknik ini beliau belajar jurusan Bouwkunde atau ilmu bangunan.

Lulus dari sekolah teknik, langsung bekerja pada Departemen Umum dibawah pemerintah kolonial. Di tempat kerja inilah Friedrich mendapat kesempatan mengunjungi berbagai negara dan belajar arsitektur tiap negara. Bertemu dan bertukar pikiran dengan arsitek dari negara lain.

Sayembara Masjid Istiqlal

Pada tanggal 22 Februari 1953 Presiden Soekarno mengadakan sayembara perancangan masjid nasional. Friedrich mengikuti sayembara tersebut dengan sebuah rancangan yang berjudul ketuhanan. Tak disangka desain tersebut menjadi pemenang yang dipilih panitia sayembara.

Rupanya pada masa itu arsitek Masjid Istiqlal ini menggunakan nama samaran untuk mengikuti sayembara. Nama samarannya berupa motto yang menjadi judul desainnya, ketuhanan. Ternyata ini adalah saran dari presiden Soekarno, yang memang memiliki kedekatan dengan beliau.

Pembangunan Masjid Istiqlal

Setelah terpilih menjadi juara dan peletakan batu pertama oleh presiden Soekarno, tahun 1961 pembangunan pun dimulai. Namun karena kekurangan dana, pembangunan sempat berhenti pada tahun 1965. Akhirnya setelah mengalami berbagai rintangan, Masjid Istiqlal selesai pada tahun 1980.

Pada tahun 1965 sang arsitek pun pensiun setelah 18 tahun bekerja di Departemen Umum. Sedihnya, uang pensiun tidak cukup untuk biaya hidup Friedrich dan kesepuluh anaknya. Sehingga beliau terpaksa melamar kemana-mana, bahkan ke PBB namun hasilnya nihil.

Akhirnya Friedrich mendapat kesempatan merancang Masjid Agung Palu pada tahun 1977 yang ditawarkan Gubernur Sulawesi Tengah. Namun itu proyek besar terakhir yang didapat. Sampai sang arsitek Masjid Istiqlal ini sakit dan menghembuskan nafas terakhir di RSPAD pada bulan Mei 1984. Jika Anda inginkan jasa arsitek Jogja, Anda bisa hubungi Japdesain.

Tinggalkan komentar